Friday, November 24, 2017

Pengalaman Seleksi dan Lolos Beasiswa AAS (4) : Wawancara Beasiswa AAS untuk S3 (PhD)

Salam!


Di bagian ini, saya akan khusus membagikan pengalaman saat saya di wawancara oleh JST untuk program beasiswa AAS tahun 2017 (Intake 2018). Kondisi di bawah saya ceritakan berdasarkan apa yang saya alami ya...jadi mungkin saja akan ada perubahan atas kondisi yang berbeda2 antara satu orang dengan lainnya. 

Kalau kamu mengikuti postingan blog ini dari awal, pasti sudah tahu bahwa saya melamar untuk program S3 (PhD) di Australia. Beasiswa ini memiliki porsi 15% dari jumlah penerima beasiswa untuk program S3 (PhD), jadi kalo misalnya mereka menargetkan 300 orang penerima beasiswa, maka akan ada sekitar 45 orang penerima beasiswa untuk program S3 (PhD). Beasiswa ini menawarkan pembiayaan penuh untuk maksimal studi 4 tahun di Australia, dan biaya conference, fieldtrip (riset lapangan), termasuk biaya buku. Intinya, kamu tinggal bawa koper, diri, dan kerjain riset kamu aja di sana..hehehe.

Pada saat seleksi 1 (saat mengisi formulir pendaftaran), kita sudah ditanyakan akan  meneliti apa. Untuk pelamar S3 (PhD), tentunya hal ini (riset) sudah harus jelas, misalnya apa yang mau kita teliti, mengapa, bagaimana caranya (metodologi), sampai ke manfaat penelitian. Khusus untuk manfaat, penelitian kita akan dihubungkan ke dalam beberapa area yang menjadi prioritas beasiswa ini (bisa dibaca pada formulir aplikasi juga). Hal penting lainnya adalah, teman2 pelamar S3 diharapkan untuk memiliki bukti komunikasi (e-mail) dengan calon supervisor untuk menjalankan riset tersebut. Tidak harus LoA loh ya...karena beasiswa AAS memang TIDAK MEWAJIBKAN adanya LoA. Tapi kalo memang sudah ada, ya disertakan saja pada dokumen tambahan, karena ini menunjukkan keseriusan dan kesiapan kita untuk ambil S3 disana.

Jadi, pada email pemberitahuan tes IELTS dan interview, terdapat juga informasi tentang apa yang harus kita persiapkan untuk wawancara. Berikut ini foto nya ya...

Informasi untuk pelamar S3 (PhD)
informasi pada email untuk pelamar S3

Terus terang aja sih, waktu ngebaca bahwa saya akan diwawancarai panel interview, lumayan berasa semriwing2 gimana gitu...alias panas dingin...takut salah ngomong, takut mereka gak paham, takut ini...takut itu...hehehhehehe. Ini pengalaman yang sangat (sangat) baru buat saya, karena sejauh saya kuliah, paling banyak yang bertanya ke saya adalah dua orang professor, itu pun prof nya sudah saya kenal sebelumnya, jadi suasana nya lebih mudah dikenali (paling gak buat saya..hehe). Ditambah dengan presentasi 10 menit tanpa power point, yang berarti saya harus menyampaikan riset saya dengan lengkap, padat, dan dapat dimengerti oleh panel. Tentu saja hal ini akan jadi faktor berkurangnya nafsu makan, tidur tidak nyenyak, dan hal tidak enak lainnya yaaa...hihiihihi..

Jadi, mulailah saya coret-coret untuk membuat ringkasan presentasi saya, ya yang penting2 aja sih...misalnya, tentang latar belakang riset, masalahnya, kontribusi (manfaat) riset, dan tentu nya metodologi. Memang secara umum, kita sudah tulis ringkasan riset ini pada formulir aplikasi, jadi  kalau untuk saya, memang ada hal2 tambahan (atau mungkin hal baru) yang akan saya sebutkan pada saat presentasi. Alasannya sederhana, jangan sampai panel interview bosan mendengarkan presentasi dengan isi yang sama seperti pada formulir. Mereka kan pasti sudah membaca formulir kita juga sebelumnya...

Tibalah Saat Wawancara!
   
Saya kebagian jadwal wawancara hari pertama untuk kelompok PhD. Ketika sampai di gedung IALF, saya di minta untuk menandatangani daftar hadir dan dipersilahkan masuk ke satu ruangan untuk menunggu. Disitulah saya ketemu teman2 pelamar beasiswa yang lain. Hari itu akan ada 7 orang pelamar S3 (PhD) yang di interview, dan kebetulan 4 orang dari Aceh. Jadi saat itu, saya berkenalan dengan 3 lainnya, karena sisanya sudah saya kenal...hehhee. 3 orang tersebut berasal dari Papua (1 orang), Papua Barat (1 orang), dan Kupang (1 orang).

Wawancara hari itu disusun sesuai dengan abjad. Jadi harusnya saya kebagian jadwal nomor 2 untuk wawancara. Tetapi, karena ada teman yang sudah harus kembali ke Banda Aceh pada siang hari, dia pun menawarkan untuk bertukar jadwal. Karena saya pikir tidak terburu2, ya saya meng-iyakan dan bertukar posisi. Akhirnya, jadwal saya pun berada di nomor 5 dan diperkirakan setelah makan siang masuk ke ruangan. Tidak lama setelah kami ngobrol2, masuklah 5 orang (yang selanjutnya saya ketahui sebagai 4 orang panel dan 1 orang officer) ke dalam ruangan tunggu. Yang saya ingat adalah, saya hanya tahu wajah satu orang Bapak dari video youtube pada saat mencari informasi beasiswa AAS. Seperti inilah wajah beliau.. tahu ya beliau siapa? 😉



Ternyata, sebelum wawancara dimulai, akan ada briefing dulu dimana setiap pewawancara memperkenalkan diri masing2 lengkap dengan institusi dan bidang riset mereka. Saat itu, untuk 4 orang dalam panel interview, terdiri dari 2 orang laki2 dan 2 orang perempuan. Perbandingan negara asal juga sama, 2 dari Indonesia dan 2 dari Australia. Diluar panel, ada 1 orang officer yang nantinya akan bertugas membantu panel agar proses sebelum dan sesudah interview berjalan lancar. Tetapi, officer ini tidak masuk ke dalam panel, alias tidak mengajukan pertanyaan. Kesan pertama saya adalah kelima orang ini adalah orang2 yang hebat di bidangnya tetapi sangat ramah (seingat saya, tim panel adalah professor)! Mereka sangat mendorong kita untuk tidak gugup dan memberikan apa yang terbaik pada saat interview. Buat saya, briefing singkat yang berupa perkenalan ini dapat mengurangi tingkat stress sebagai peserta. Karena setidaknya, kami telah mengenal (walaupun sedikit ya...) siapa pewawancara kami.

Oh ya, tim panel juga mengingatkan kita kalau wawancara akan dilakukan dalam bahasa Inggris. Tetapi, kalau ada istilah2 yang teman2 bingung mengungkapkannya dalam bahasa Inggris, jangan sungkan untuk menyebutkannya dalam bahasa Indonesia. Tim panel akan membantu untuk mencarikan istilah yang tepat...

Saat tim panel bersiap untuk masuk ke ruangan interview, peserta pun diingatkan untuk langsung keluar dari ruangan (tidak kembali ke ruang tunggu) setelah selesai menjalani interview. Dan officer akan memastikan anda menuju ke pintu keluar gedung...hehehehe. Ya, inti nya interview ini bersifat tertutup dan mungkin saja ada hal2 yang berbeda pertanyaannya antara satu peserta dengan lainnya.

Ketika menunggu giliran, kami sebagai peserta ya ngobrol2 aja di ruang tunggu...itung2 kenalan sambil ngurangin stress lah...dari situ juga saya tahu bahwa pelamar PhD untuk beasiswa AAS ini adalah orang2 yang berkompeten di bidangnya dan pasti akan lebih hebat di masa depan. Ada yang dosen, ada yang PNS, ada juga yang pimpinan LSM..mantap deh pokoknya. Uniknya, pada saat kami menunggu, ada satu orang membawa tas flanel bertuliskan "Australia Awards" yang selanjutnya kami ketahui adalah pegawai dari Australia Awards! Ternyata beliau harus mengantarkan dokumen ke tim panel, dan karena sedang ada giliran interview, jadi beliau ngobrol2 dulu dengan kami di  ruang tunggu. Sampai pada akhirnya, ada percakapan seperti ini..."kalau saya liat, peserta PhD terlihat lebih santai dalam interview ya...dari wajahnya sudah terlihat siap semua sepertinya". Lalu kami saling menjawab.."ya, gimana ya pak..harus dihadepin kan..." atau "udah biasa nih pak.." atau "mencoba kasih yang terbaik aja pak" atau "biar buru2 bisa selesai ni prosesnya pak..". Dari jawabannya, saya tahu bahwa orang2 ini adalah orang yang terpilih dan siap untuk menjalani program ini.

Giliran saya!

Setelah makan siang dan istirahat sholat (kira-kira satu jam), interview pun dimulai lagi dengan giliran saya. Terus terang saya gak nafsu makan loh...hehehe, jadi ya seadanya aja dulu asal keisi perut. Dan...tibalah giliran saya dipanggil oleh officer ke dalam ruangan interview.

Degup jantung pun terasa lebih cepat ya, hehehhee...tapi ternyata ruangan interview gak sedingin ruang tunggu tadi (perasaan saya aja kali ya..) dan saya pun di suruh duduk oleh panel. Posisi meja nya mungkin sama aja kayak kita sidang skripsi/thesis ya.. jadi kita akan duduk berseberangan dengan tim panel. Pada saat kita masuk, seluruh panel interview dengan ramah memanggil  nama dan memandang kita..dan di depan mereka ada banyak sekali laptop dan dokumen2. Sepertinya satu orang pewawancara akan punya dua buah laptop untuk mencari informasi tentang kita (pastinya...)

Nah, ada kejadian lucu nih...setelah dipersilahkan duduk, saya pun dengan pede duduk di kursi yang telah disediakan. Rupanya, kaki saya tuh menggantung lumayan jauh dari lantai..karena tinggi badan saya yang standar banget kayaknya...hehehe. Salah satu pewawancara bilang ke saya "are you ok with that, Amelia?" Saya menjawab "its oke, I'm fine". Tapi mereka bilang kalo saya harus benar2 merasa nyaman agar bisa memberikan jawaban terbaik pada interview ini. Sempat juga cari2 cara agar kursi itu bisa direndahin, tapi entah kenapa kok gak bisa diatur ketinggiannya..hehehe. Akhirnya, salah satu professor mengambilkan saya satu kursi kuliah dan saya pun membantu beliau untuk mengganti kursi yang "ketinggian" tadi.

Wawancara pun dimulai dengan presentasi awal selama 10 menit tanpa power point terkait rencana riset kita. Tidak usah terburu2 ya teman2, dan menurut saya sebaiknya memang ada kalimat2 menarik atau hal baru yang tidak dapat mereka temukan di formulir aplikasi. Karena sebenarnya, mereka pun sudah membaca aplikasi kita. Bahkan informasi tentang pekerjaan dan latar belakang kita pun, sebetulnya sudah mereka ketahui sebelum kita memulai wawancara. Setelah selesai, para pewawancara pun akan bergantian bertanya tentang hal2 yang harus mereka konfirmasi atau mungkin masih membingungkan untuk mereka. Pada pengalaman saya, hampir seluruh pertanyaan terkait tentang rencana riset. Saya ditanya kenapa harus meneliti ini? kenapa pakai teori ini? bagaimana data nya? dan pertanyaan2 lain TERKAIT RISET. Wajar lah ya...karena kan program S3 (PhD) adalah tentang riset, dan itulah mengapa, sangat penting bagi teman2 untuk benar2 mengetahui dan menguasai apa yang mau kita lakukan di riset kita nanti. Buat saya, interview ini seperti forum diskusi antara rekan peneliti. Tidak ada yang namanya menjatuhkan atau mendebat pendapat kita. Dari interview yang pernah saya jalani untuk beberapa program beasiswa, bisa saya katakan kalau interview beasiswa AAS merupakan hal yang sangat saya nikmati. Panel interview pun sangat terbuka dengan pendapat kita, dan sangat menghargai apa yang kita katakan. Dan saya pikir kita juga harus begitu sebaliknya ya...artinya jika mereka punya ide atau pendapat terkait riset kita, selama itu memang baik ya harus kita respon dengan baik. Mungkin saja kan, ada hal2 yang memang belum terpikirkan oleh kita sebelumnya dan masukan dari mereka (mungkin) bisa memperkaya wawasan riset kita. Intinya, ya gak usah defensif kali ya...hehehehe. Persepsi awal saya tentang seramnya interview ini ternyata sama sekali tidak terbukti.

Setelah pertanyaan2 terkait riset datang silih berganti kepada saya, satu orang pewawancara bilang: "Ok Amelia, it's time to forget all research questions. I want to ask something about you in the future"...sebenarnya dalam hati saya berkata "puuffhhh...alhamdulillaahh...". Dan pertanyaan tentang akan jadi apa anda dalam 10 tahun ke depan pun muncul. Sebetulnya pertanyaan ini sekilas sudah disebutkan di email informasi (yang sebelumnya saya posting). Jadi kayaknya, ini seperti pertanyaan "wajib" untuk beasiswa AAS. Sebelum wawancara berakhir, kita dikasih kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan sesuatu yang (mungkin) belum sempat kita bilang pada saat ditanya tadi. Untuk saya, kesempatan ini saya gunakan untuk kembali menekankan bahwa saya sangat menginginkan beasiswa ini karena....(teman2 juga bisa isi sendiri...hehehe). Setelah itu, panel mengatakan bahwa diterima atau tidaknya kita dalam beasiswa akan diputuskan bersama oleh Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia. Ada satu kata yang pada saat itu membuat saya bingung, salah satu professor mengatakan "good luck for your study, Amelia". Saya senyum tapi sambil nanya, gimana mau "study"..kan lolos beasiswa aja belum...hehehehe, entah apakah itu pertanda baik untuk saya atau bukan 😀. Saya pun sempat menyalami pewawancara satu persatu, bahkan membuat mereka kaget akan "dinginnya" tangan saya saat itu...hehehehehe, maklum deh...saya emang gitu orangnya 😅. Selesai itu pun, saya diantar oleh officer ke luar ruangan...legaaa!

Saya ingatkan kembali ya, bahwa pengalaman saya diatas tidak dapat dijadikan acuan utama bagi seluruh teman2 pelamar S3 (PhD) beasiswa AAS, karena mungkin saja antara satu orang dengan lainnya akan berbeda2 pertanyaannya. Terlepas dari itu, berikut ini TIPS yang dapat saya bagikan:

  • Persiapkan dan gunakan waktu presentasi selama 10 menit dengan sebaik2nya, tidak usah terburu2.
  • Kuasai rencana riset kita sebaik2nya, kita yang tahu apa yang akan kita lakukan, karena ini riset kita.
  • Buat pertanyaan2 (untuk latihan) yang mungkin akan diajukan oleh pewawancara. Hal ini memungkinkan kita untuk melihat hal2 apa saja yang belum kita kuasai.
  • Persiapkan pertanyaan dan jawaban untuk hal2 yang "pribadi" (bukan riset) seperti contoh yang telah saya sebutkan di pengalaman saya.
  • Jaga kondisi tubuh dan hati kita. Makan yang bergizi, dan jauhi hal2 yang dapat mengganggu mood menjelang interview.
  • Banyak berdoa agar diberi kemudahan dan kelancaran, karena pada siapa lagi kita minta pertolongan kan?
  • Gugup itu wajar, tapi ingat...mungkin ini adalah kesempatan terakhir kamu untuk sampai pada proses interview ini. Sehingga, tetap kontrol ke"gugup"an mu yaa !

Itu saja yang dapat saya bagikan terkait pengalaman saya menjalani interview (wawancara) beasiswa AAS untuk pelamar S3 (PhD). Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos untuk intake 2018.

Kalau ada pertanyaan, silakan tulis di kolom comment. Insha Allah, saya akan balas secepatnya. Semoga sukses ya teman2! 😘

19 komentar

Alow mbak Amel.. terima kasih untuk sharing pengalamannya sangat menginspirasi. Saya mau tanya untuk AAS ini ada tes IELTS dan wawancara. Jadi pada saat pertama kali upload dokumen kalo belum memiliki hasil IELTS atau hasilnya belum mencapai target bagaimana? Tm

Alow juga...kalau pertama kali belum ada IELTS, bisa pake ITP kok. Tapi kalau hasilnya belum sesuai yang diminta berarti kan tidak memenuhi syarat aplikasi dong ya...hehehe. Jadi ambil tes lagi sampai memenuhi syarat ya...semoga lancar!

Salam kak amel. Saya febri dari aceh. Congrats ya kak buat beaiswanya. Moga berkah. Kak, saya mau tanya untuk pengisian riset di aplikasi apa harus mencantumkan referensi atau tidak? Terus kakak dulu melampirkan rekom atasan atau tidak?

Waalaikumussalam Febri, terima kasih. Untuk pengisian riset di aplikasi, saya tidak mencantumkan referensi, jadi to the point saja, mengingat jumlah kata yang disyaratkan. Tetapi pada waktu upload dokumen pendukung, saya menyertakan riset proposal yang ada daftar referensinya. Pertanyaan kedua, saya mencantumkan dua rekomendasi. Pertama dari pembimbing s2, dan satu lagi dari atasan di lembaga tempat bekerja. Demikian, mudah2an dapat membantu.

Baik kak. Terima kasih atas belasannya. Untuk pns kita kan melampirkan surat nominating agency. Apa kita juga perlu membuat surat izin mengikuti beasiswa dari dekan?

kalau di persyaratan tidak diminta, ya tidak perlu dibuat lagi febri. Karena di form aplikasi kan sudah ada stempel dan tanda tangan atasan kan ya? saya pikir itu akan sama saja dengan surat ijin.

Baik, mbak. Kalau untuk sertifikat toefl yang dikirim yang mana ya mbak? Yang kecil atau yang besar?

Hi Febri, sepertinya harus di cek kembali di persyaratannya ya..tapi kalo febri bisa satukan file nya (lembaran kecil dan besar) dalam 1 dokumen, tentu akan lebih jelas lagi ya..maaf saya tidak bisa jawab sesuai pengalaman saya, karena saya menggunakan sertifikat IELTS untuk mendaftar. Demikian, mudah2an dapat membantu.

Baik kak. Terima kasih banyak ya kak. Wishing you all the best for your PhD journey at UNSW.

Sama2 Febri, hanya sharing pengalaman saja kok ini. Aamiin...terima kasih banyak atas doanya, mudah2an Febri lancar juga ya..aamiin.

Salam, sukses ya mba atas beasiswanya

Sy minggu depan akan wawancara untuk phd jg, mohon doanya ya hehhehe

Pertanyaan sy:
1. Apakah kita boleh membawa riset proposal kita dan membacanya saat diberikan waktu 10 menit itu?
2. Sy tidak pede dengan hasil IELTS, apakah hasil ielts besar pengaruhnya thp kelulusan?

Terima kasih atas jawabnnya

Waalaikumussalam Suhe Hendri,

Saya minta maaf karena terlambat menjawab pertanyaan kamu. Entah kenapa tidak ada notifikasi yang datang ke email saya (biasanya ada),tapi mudah2an masih bisa menjawab ya..

Bulan agustus ini mungkin Suhe Hendri sudah menjalani tes wawancara nya kan ya? jadi pertanyaan no.1 tidak usah saya jawab ya...hehehe..

Untuk no.2, besar atau tidak nya saya kurang paham, tapi yang jelas berpengaruh. Artinya, kelulusan tergantung pada wawancara dan ielts kita. Bukan berarti IELTS nya besar trus langsung lolos beasiswa. Ada juga kandidat PhD yang IELTS nya masih harus diperbaiki di program PDT. Jadi jangan kuatir ya...kalau sudah berusaha, Insha Allah yang terbaik nanti hasilnya.

Semoga membantu dan sukses selalu!

Ass bu amelia

Slam sukses bu

Cukup menarik membaca postingan2 di blog ibu terkait beasiswa AAS
Satu hal yg masih menjadi tanda tanya buat saya bu
Apakah untuk terjemahan dokumen yg harus di upload pada saat mendaftar harus diterjemahkan oleh sworn tanslator atau dapat diterjemahkan oleh lembaga bahasa
Dan apakah di banda aceh ada lembaga yg berkompeten untuk menerjemahkan dokumen tsb..terima kasih

Waalaikumussalam randy,
Kalau untuk terjemahan, memang sebaiknya ke sworn translator, untuk menghindari salah makna dari dokumen terkait. Tetapi harus dilihat kembali dokumen apa yang ingin diterjemahkan, bila ijazah dan transkrip (misalnya), maka (umumnya) universitas sudah memiliki format terjemahan untuk dokumen tersebut, sehingga tidak perlu ke sworn translator. Demikian, mudah2an dapat membantu, salam sukses kembali randy!

Saya lagi ni bu..hehehe

Saya selesai sarjana di jutusan ekonomi manajemen dan bekerja di salah satu pemerintah daerah di aceh. seandainya ibu ga keberatan saya mau tanya pendapat ibu sebagai seorang dosen
Jurusan apakah yg paling cocok saya ambil agar dapat mendukung pembangunan ekonomi daerah seandainya ni bu..seandainya...dan seandainya saya bisa berkuliah melalui beasiswa australia award

Hi randy,
Kalau memang sudah bekerja, artinya harus disesuaikan juga dengan kebutuhan pekerjaan saat ini agar ilmu yang di dapat saat lanjut studi memberikan kontribusi optimal bagi institusi dan juga pengembangan diri randi sendiri. Saran saya, jika memang randi berminat untuk mengajukan beasiswa, maka persiapkan dulu syarat2 administrasinya, seperti IELTS atau TOEFL yang pasti akan butuh waktu untuk persiapan, dll. Selain itu, mulai mencari tahu apa yang sebenarnya randi ingin untuk belajar dan memberikan manfaat (tentunya harus disesuaikan dengan keadaan). Semoga sukses ya randi!

This comment has been removed by the author.

Halo mba, saya mau tanya. Kalau pas S2 ambil master by coursework dgn minor research, bisa lamar program doctoral AAS gak? Dan dulu minta rekomendasi dari supervisor S2nya pas masih kuliah S2 atau pas mau daftar AAS?

Halo juga Gina,
Pengalaman saya dulu pada saat melamar memang diwajibkan adanya komponen riset (dinyatakan dalam persentase). Ini bisa dilihat pada transkrip nilai S2, yang (biasanya) memuat perhitungan riset (jika ada). Program S3 di Ausie setahu saya (mohon di cek kembali) sepertinya mewajibkan kita untuk memiliki komponen riset sebelumnya. Terlepas dari itu, jika memang Gina sudah memiliki pengalaman melakukan riset atau bahkan publikasi, ya bisa dimasukkan dan disesuaikan dengan apa yang diminta di formulir pendaftaran.

Rekomendasi dari spv S2 saya minta pada saat saya mendaftar AAS, tetapi komunikasi nya (rencana saya ingin sekolah lagi) sudah lama saya lakukan dengan supervisor. Sehingga beliau tidak "kaget" dan "terburu2" ketika saya meminta rekomendasi dari beliau.

Demikian Gina, mudah2an dapat membantu. Semoga sukses ya!


EmoticonEmoticon