-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM101

Pengalaman Seleksi dan Lolos Beasiswa AAS (4/bag.terakhir) : Wawancara Beasiswa AAS untuk S3 (PhD)

Friday, November 24, 2017
Salam!

Di bagian ini, saya akan khusus membagikan pengalaman seleksi wawancara beasiswa AAS tahun 2017 (Intake 2018) untuk program PhD. Kondisi di bawah saya ceritakan berdasarkan apa yang saya alami ya...jadi mungkin saja akan ada perubahan atas kondisi yang berbeda2 antara satu orang dengan lainnya. 

Kalau kamu mengikuti postingan blog ini dari awal, pasti sudah tahu bahwa saya melamar untuk program S3 (PhD) di Australia. Beasiswa ini memiliki porsi 15% dari jumlah penerima beasiswa AAS. Jadi misalnya ada 300 orang penerima beasiswa AAS, maka akan ada sekitar 45 orang yang menerima beasiswa untuk program S3 (PhD). Beasiswa ini menawarkan pembiayaan penuh untuk maksimal studi 4 tahun di Australia, biaya conference, fieldtrip (riset lapangan), termasuk biaya buku. Intinya, kamu tinggal bawa koper, diri, dan kerjain riset kamu aja di sana..😉

Pada saat seleksi berkas (saat mengisi formulir pendaftaran), kita sudah ditanyakan akan  meneliti apa. Untuk pelamar S3 (PhD), tentunya hal ini (riset) sudah harus jelas, misalnya apa yang mau kita teliti, mengapa, bagaimana caranya (metodologi), sampai ke manfaat penelitian. Khusus untuk manfaat, penelitian kita akan dihubungkan ke dalam beberapa area yang menjadi prioritas beasiswa ini (bisa dibaca pada formulir aplikasi juga). Hal penting lainnya adalah, teman2 pelamar S3 diharapkan untuk memiliki bukti komunikasi (e-mail) dengan calon supervisor untuk menjalankan riset tersebut. Tidak harus LoA loh ya...karena beasiswa AAS memang TIDAK MEWAJIBKAN adanya LoA. Tapi kalo memang sudah ada, ya disertakan saja pada dokumen tambahan, karena ini menunjukkan keseriusan dan kesiapan kita untuk ambil S3 disana.

Jadi, pada email pemberitahuan tes IELTS dan interview, terdapat juga informasi tentang apa yang harus kita persiapkan untuk wawancara. Berikut ini foto nya ya...
Email informasi
Terus terang aja, membaca bahwa saya akan diwawancarai panel interview, lumayan membuat khawatir dan panas dingin. Takut salah ngomong, takut mereka gak paham, takut ini...takut itu...hehe. Ini pengalaman yang (sangat) baru buat saya, karena sejauh saya kuliah, paling banyak menghadapi dua orang professor di dalam panel, itu pun prof nya sudah saya kenal sebelumnya, jadi suasana nya lebih mudah dikenali (paling gak buat saya..hehe). Ditambah dengan presentasi 10 menit tanpa power point, yang berarti saya harus menyampaikan riset saya secara lengkap, padat, dan dapat dimengerti oleh panel. Tentu saja hal ini akan jadi faktor berkurangnya nafsu makan, tidur tidak nyenyak, dan hal tidak enak lainnya 😅

Jadi, mulailah saya coret-coret untuk membuat ringkasan presentasi saya, ya yang penting2 aja sih...misalnya, tentang latar belakang riset, masalah yang ingin di teliti, kontribusi/manfaat riset, dan tentu nya metodologi. Memang secara umum, kita sudah tulis ringkasan riset ini pada formulir aplikasi, jadi  kalau untuk saya, memang ada hal2 tambahan (atau mungkin hal baru) yang akan saya sebutkan pada saat presentasi. Alasannya sederhana, jangan sampai panel interview bosan mendengarkan presentasi dengan isi yang sama seperti pada formulir karena mereka pasti sudah membaca formulir kita juga sebelumnya.

Tibalah Saat Wawancara!   
Saya kebagian jadwal wawancara hari pertama untuk kelompok PhD. Ketika sampai di gedung IALF, saya di minta untuk menandatangani daftar hadir dan dipersilahkan masuk ke satu ruangan untuk menunggu. Disitulah saya ketemu teman2 pelamar PhD yang lain. Hari itu akan ada 7 orang pelamar yang akan di interview, dan kebetulan 4 orang dari Aceh. Jadi saat itu, saya berkenalan dengan 3 lainnya, karena sisanya sudah saya kenal...hehe. 3 orang tersebut berasal dari Papua (1 orang), Papua Barat (1 orang), dan Kupang (1 orang).

Wawancara hari itu disusun sesuai dengan abjad dan harusnya saya kebagian nomor urut 2 untuk di wawancara. Tetapi, karena ada teman yang sudah harus kembali ke Banda Aceh pada siang hari, dia pun menawarkan untuk bertukar jadwal. Karena saya pun tidak terburu2, jadi saya meng-iyakan dan bertukar posisi. Akhirnya, jadwal saya pun berada di nomor 5 dan diperkirakan setelah makan siang masuk ke ruangan. Tidak lama setelah kami ngobrol2, masuklah 5 orang (yang selanjutnya saya ketahui sebagai 4 orang panel dan 1 orang officer) ke dalam ruangan tunggu. Ada satu wajah familiar yang saya ketahui dari video youtube pada saat mencari informasi beasiswa AAS.  Tahu ya beliau siapa? 😉

Sebelum wawancara dimulai, akan ada briefing dulu dimana setiap anggota panel memperkenalkan diri - lengkap dengan institusi dan bidang riset mereka. Ada 2 orang laki2 dan 2 orang perempuan dengan perbandingan sama untuk asal negara. Jadi, 2 dari Indonesia dan 2 dari Australia. Diluar panel, ada 1 orang officer yang nantinya akan bertugas membantu panel agar proses sebelum dan sesudah interview berjalan lancar. Tetapi, officer ini tidak masuk ke dalam panel, alias tidak mengajukan pertanyaan. Kesan pertama saya adalah kelima orang ini adalah orang2 kompeten di bidangnya dan sangat ramah. Mereka sangat mendorong kita untuk tidak gugup dan memberikan apa yang terbaik pada saat interview. Buat saya, briefing singkat ini dapat mengurangi tingkat stress karena setidaknya, saya telah mengenal (walaupun sedikit) siapa pewawancara.

Oh ya, tim panel juga mengingatkan kita kalau wawancara akan dilakukan dalam bahasa Inggris. Tetapi, kalau ada istilah2 yang teman2 bingung mengungkapkannya dalam bahasa Inggris, jangan sungkan untuk menyebutkannya dalam bahasa Indonesia. Tim panel akan membantu untuk mencarikan istilah yang tepat.

Saat tim panel bersiap untuk masuk ke ruangan interview, peserta pun diingatkan untuk langsung keluar dari ruangan (tidak kembali ke ruang tunggu) setelah selesai menjalani interview. Dan officer akan memastikan anda menuju ke pintu keluar gedung 😄. Artinya, interview ini bersifat tertutup dan mungkin saja ada hal2 yang berbeda pertanyaannya antara satu peserta dengan lainnya. Tapi, ketika menunggu giliran, peserta dapat saling berdiskusi di ruang tunggu yang disediakan. Untuk saya pribadi, ini sangat membantu untuk mengurangi stress sekaligus juga menambah teman. 

Giliran saya!
Setelah makan siang dan istirahat sholat (kira-kira satu jam), interview pun dimulai lagi dengan giliran saya. Terus terang saya gak nafsu makan saat itu 😅, seadanya aja dulu asal terisi perut ini - sampai akhirnya giliran saya dipanggil oleh officer ke dalam ruangan interview.

Degup jantung pun terasa lebih cepat dan saya pun di minta duduk oleh panel. Posisi mejanya mungkin sama seperti saat kita sidang skripsi/thesis, kita akan duduk berseberangan dengan tim panel. Pada saat kita masuk, seluruh panel interview dengan ramah memanggil  nama dan memandang kita. Di depan mereka ada banyak sekali laptop dan dokumen2. Sepertinya satu orang pewawancara akan punya dua buah laptop untuk mencari informasi tentang kita (pastinya...)

Nah, ada kejadian lucu nih..setelah dipersilahkan duduk, saya pun dengan PD duduk di kursi yang telah disediakan. Rupanya, kaki saya menggantung lumayan jauh dari lantai (karena tinggi badan saya yang standar banget kayaknya). Salah satu pewawancara bilang ke saya "are you ok with that, Amelia?" Saya menjawab "its ok, I'm fine". Tapi mereka bilang kalo saya harus benar2 merasa nyaman agar bisa memberikan jawaban terbaik pada interview ini. Akhirnya, salah satu anggota panel membantu mencari kursi pengganti yang "ketinggian" tadi. Duh..mudah2an gak bikin repot 😅

Wawancara pun dimulai dengan presentasi awal selama 10 menit tanpa power point terkait rencana riset kita. Tidak usah terburu2 ya teman2, dan menurut saya sebaiknya memang ada kalimat2 menarik atau hal baru yang tidak dapat mereka temukan di formulir aplikasi. Karena sebenarnya, mereka pun sudah membaca aplikasi kita. Bahkan informasi tentang pekerjaan dan latar belakang kita pun, sebetulnya sudah mereka ketahui sebelum kita memulai wawancara. Setelah selesai, para pewawancara pun akan bergantian bertanya tentang hal2 yang harus mereka konfirmasi atau mungkin masih membingungkan untuk mereka. Pada pengalaman saya, hampir seluruh pertanyaan terkait tentang rencana riset. Saya ditanya kenapa harus meneliti ini? kenapa pakai teori ini? bagaimana data nya? dan pertanyaan2 lain TERKAIT RISET. Wajar lah ya...karena kan program S3 (PhD) adalah tentang riset, dan itulah mengapa, sangat penting bagi teman2 untuk benar2 mengetahui dan menguasai apa yang mau kita lakukan di riset kita nanti. Buat saya, interview ini seperti forum diskusi antara rekan peneliti. Tidak ada yang namanya menjatuhkan atau mendebat pendapat kita. Dari interview yang pernah saya jalani untuk beberapa program beasiswa, bisa saya katakan kalau interview beasiswa AAS merupakan hal yang sangat saya nikmati. Panel interview pun sangat terbuka dengan pendapat kita, dan sangat menghargai apa yang kita katakan. Dan saya pikir kita juga harus begitu sebaliknya ya...artinya jika mereka punya ide atau pendapat terkait riset kita, selama itu memang baik ya harus kita respon dengan baik. Mungkin saja kan, ada hal2 yang memang belum terpikirkan oleh kita sebelumnya dan masukan dari mereka (mungkin) bisa memperkaya wawasan riset kita. Intinya, ya gak usah defensif kali ya...😄. Persepsi awal saya tentang seramnya interview ini ternyata sama sekali tidak terbukti.

Setelah pertanyaan2 terkait riset datang silih berganti kepada saya, satu orang pewawancara bilang: "Ok Amelia, it's time to forget all research questions. I want to ask something about you in the future." Sebenarnya dalam hati saya berkata "puuffhhh...alhamdulillaahh...". Dan pertanyaan tentang akan jadi apa anda dalam 10 tahun ke depan pun muncul. Sebetulnya pertanyaan ini sekilas sudah disebutkan di email informasi (yang sebelumnya saya posting). Sepertinya, ini menjadi pertanyaan 'wajib' beasiswa AAS. Sebelum wawancara berakhir, kita dikasih kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan sesuatu yang (mungkin) belum sempat kita bilang pada saat ditanya tadi. Untuk saya, kesempatan ini saya gunakan untuk kembali menekankan bahwa saya sangat menginginkan beasiswa ini karena....(silakan isi sendiri). Setelah itu, panel mengatakan bahwa diterima atau tidaknya kita dalam beasiswa akan diputuskan bersama oleh Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia. Ada satu kata yang pada saat itu membuat saya bingung, salah satu anggota panel mengatakan "good luck for your study, Amelia". Saya senyum tapi sambil nanya dalam hati, gimana mau 'study'..kan lolos beasiswa aja belum, tanpa menyadari ternyata itu pertanda baik buat saya😀. Saya pun sempat menyalami anggota panel satu persatu, bahkan membuat mereka kaget akan 'dinginnya' tangan saya saat itu. Maklum deh...saya emang gitu orangnya 😅. Selesai itu pun, saya diantar oleh officer ke luar ruangan... dan legaaa!

Saya ingatkan kembali ya, bahwa pengalaman diatas tidak dapat dijadikan acuan utama bagi seluruh pelamar PhD beasiswa AAS, karena mungkin saja antara satu orang dengan lainnya akan berbeda2 pertanyaannya. Terlepas dari itu, berikut ini TIPS yang dapat saya bagikan:
  • Persiapkan dan gunakan waktu presentasi selama 10 menit dengan sebaik2nya, tidak usah terburu2.
  • Kuasai rencana riset kita sebaik2nya, kita yang tahu apa yang akan kita lakukan, karena ini riset kita.
  • Buat pertanyaan2 (untuk latihan) yang mungkin akan diajukan oleh pewawancara. Hal ini memungkinkan kita untuk melihat hal2 apa saja yang belum kita kuasai.
  • Persiapkan pertanyaan dan jawaban untuk hal2 yang 'pribadi' (bukan riset) seperti contoh yang telah saya sebutkan di pengalaman saya.
  • Jaga kondisi tubuh dan hati kita. Makan yang bergizi, dan jauhi hal2 yang dapat mengganggu mood menjelang interview.
  • Banyak berdoa agar diberi kemudahan dan kelancaran, karena pada siapa lagi kita minta pertolongan kan?
  • Gugup itu wajar, tapi ingat...mungkin ini adalah kesempatan terakhir kamu untuk sampai pada proses interview ini. Sehingga, tetap kontrol ke'gugup'an mu yaa !
Itu saja yang dapat saya bagikan terkait pengalaman saya menjalani interview (wawancara) beasiswa AAS untuk pelamar S3 (PhD). Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos untuk intake 2018.

Kalau ada pertanyaan, silakan tulis di kolom comment. Insha Allah, saya akan balas secepatnya. Semoga sukses ya teman2! 😘
Share This :
avatar

Alow mbak Amel.. terima kasih untuk sharing pengalamannya sangat menginspirasi. Saya mau tanya untuk AAS ini ada tes IELTS dan wawancara. Jadi pada saat pertama kali upload dokumen kalo belum memiliki hasil IELTS atau hasilnya belum mencapai target bagaimana? Tm

Friday, March 16, 2018
avatar
Amelia

Alow juga...kalau pertama kali belum ada IELTS, bisa pake ITP kok. Tapi kalau hasilnya belum sesuai yang diminta berarti kan tidak memenuhi syarat aplikasi dong ya...hehehe. Jadi ambil tes lagi sampai memenuhi syarat ya...semoga lancar!

Friday, March 16, 2018
avatar
Febri

Salam kak amel. Saya febri dari aceh. Congrats ya kak buat beaiswanya. Moga berkah. Kak, saya mau tanya untuk pengisian riset di aplikasi apa harus mencantumkan referensi atau tidak? Terus kakak dulu melampirkan rekom atasan atau tidak?

Tuesday, April 03, 2018
avatar
Amelia

Waalaikumussalam Febri, terima kasih. Untuk pengisian riset di aplikasi, saya tidak mencantumkan referensi, jadi to the point saja, mengingat jumlah kata yang disyaratkan. Tetapi pada waktu upload dokumen pendukung, saya menyertakan riset proposal yang ada daftar referensinya. Pertanyaan kedua, saya mencantumkan dua rekomendasi. Pertama dari pembimbing s2, dan satu lagi dari atasan di lembaga tempat bekerja. Demikian, mudah2an dapat membantu.

Tuesday, April 03, 2018
avatar
Febri

Baik kak. Terima kasih atas belasannya. Untuk pns kita kan melampirkan surat nominating agency. Apa kita juga perlu membuat surat izin mengikuti beasiswa dari dekan?

Wednesday, April 04, 2018
avatar
Amelia

kalau di persyaratan tidak diminta, ya tidak perlu dibuat lagi febri. Karena di form aplikasi kan sudah ada stempel dan tanda tangan atasan kan ya? saya pikir itu akan sama saja dengan surat ijin.

Wednesday, April 04, 2018
avatar
Febri

Baik, mbak. Kalau untuk sertifikat toefl yang dikirim yang mana ya mbak? Yang kecil atau yang besar?

Tuesday, April 10, 2018
avatar
Amelia

Hi Febri, sepertinya harus di cek kembali di persyaratannya ya..tapi kalo febri bisa satukan file nya (lembaran kecil dan besar) dalam 1 dokumen, tentu akan lebih jelas lagi ya..maaf saya tidak bisa jawab sesuai pengalaman saya, karena saya menggunakan sertifikat IELTS untuk mendaftar. Demikian, mudah2an dapat membantu.

Tuesday, April 10, 2018
avatar
Febri

Baik kak. Terima kasih banyak ya kak. Wishing you all the best for your PhD journey at UNSW.

Tuesday, April 10, 2018
avatar
Amelia

Sama2 Febri, hanya sharing pengalaman saja kok ini. Aamiin...terima kasih banyak atas doanya, mudah2an Febri lancar juga ya..aamiin.

Tuesday, April 10, 2018
avatar

Salam, sukses ya mba atas beasiswanya

Sy minggu depan akan wawancara untuk phd jg, mohon doanya ya hehhehe

Pertanyaan sy:
1. Apakah kita boleh membawa riset proposal kita dan membacanya saat diberikan waktu 10 menit itu?
2. Sy tidak pede dengan hasil IELTS, apakah hasil ielts besar pengaruhnya thp kelulusan?

Terima kasih atas jawabnnya

Sunday, July 08, 2018
avatar
Amelia

Waalaikumussalam Suhe Hendri,

Saya minta maaf karena terlambat menjawab pertanyaan kamu. Entah kenapa tidak ada notifikasi yang datang ke email saya (biasanya ada),tapi mudah2an masih bisa menjawab ya..

Bulan agustus ini mungkin Suhe Hendri sudah menjalani tes wawancara nya kan ya? jadi pertanyaan no.1 tidak usah saya jawab ya...hehehe..

Untuk no.2, besar atau tidak nya saya kurang paham, tapi yang jelas berpengaruh. Artinya, kelulusan tergantung pada wawancara dan ielts kita. Bukan berarti IELTS nya besar trus langsung lolos beasiswa. Ada juga kandidat PhD yang IELTS nya masih harus diperbaiki di program PDT. Jadi jangan kuatir ya...kalau sudah berusaha, Insha Allah yang terbaik nanti hasilnya.

Semoga membantu dan sukses selalu!

Thursday, August 02, 2018
avatar

Ass bu amelia

Slam sukses bu

Cukup menarik membaca postingan2 di blog ibu terkait beasiswa AAS
Satu hal yg masih menjadi tanda tanya buat saya bu
Apakah untuk terjemahan dokumen yg harus di upload pada saat mendaftar harus diterjemahkan oleh sworn tanslator atau dapat diterjemahkan oleh lembaga bahasa
Dan apakah di banda aceh ada lembaga yg berkompeten untuk menerjemahkan dokumen tsb..terima kasih

Saturday, September 01, 2018
avatar
Amelia

Waalaikumussalam randy,
Kalau untuk terjemahan, memang sebaiknya ke sworn translator, untuk menghindari salah makna dari dokumen terkait. Tetapi harus dilihat kembali dokumen apa yang ingin diterjemahkan, bila ijazah dan transkrip (misalnya), maka (umumnya) universitas sudah memiliki format terjemahan untuk dokumen tersebut, sehingga tidak perlu ke sworn translator. Demikian, mudah2an dapat membantu, salam sukses kembali randy!

Saturday, September 01, 2018
avatar

Saya lagi ni bu..hehehe

Saya selesai sarjana di jutusan ekonomi manajemen dan bekerja di salah satu pemerintah daerah di aceh. seandainya ibu ga keberatan saya mau tanya pendapat ibu sebagai seorang dosen
Jurusan apakah yg paling cocok saya ambil agar dapat mendukung pembangunan ekonomi daerah seandainya ni bu..seandainya...dan seandainya saya bisa berkuliah melalui beasiswa australia award

Tuesday, September 04, 2018
avatar
Amelia

Hi randy,
Kalau memang sudah bekerja, artinya harus disesuaikan juga dengan kebutuhan pekerjaan saat ini agar ilmu yang di dapat saat lanjut studi memberikan kontribusi optimal bagi institusi dan juga pengembangan diri randi sendiri. Saran saya, jika memang randi berminat untuk mengajukan beasiswa, maka persiapkan dulu syarat2 administrasinya, seperti IELTS atau TOEFL yang pasti akan butuh waktu untuk persiapan, dll. Selain itu, mulai mencari tahu apa yang sebenarnya randi ingin untuk belajar dan memberikan manfaat (tentunya harus disesuaikan dengan keadaan). Semoga sukses ya randi!

Tuesday, September 04, 2018
This comment has been removed by the author.
avatar

Halo mba, saya mau tanya. Kalau pas S2 ambil master by coursework dgn minor research, bisa lamar program doctoral AAS gak? Dan dulu minta rekomendasi dari supervisor S2nya pas masih kuliah S2 atau pas mau daftar AAS?

Friday, September 21, 2018
avatar
Amelia

Halo juga Gina,
Pengalaman saya dulu pada saat melamar memang diwajibkan adanya komponen riset (dinyatakan dalam persentase). Ini bisa dilihat pada transkrip nilai S2, yang (biasanya) memuat perhitungan riset (jika ada). Program S3 di Ausie setahu saya (mohon di cek kembali) sepertinya mewajibkan kita untuk memiliki komponen riset sebelumnya. Terlepas dari itu, jika memang Gina sudah memiliki pengalaman melakukan riset atau bahkan publikasi, ya bisa dimasukkan dan disesuaikan dengan apa yang diminta di formulir pendaftaran.

Rekomendasi dari spv S2 saya minta pada saat saya mendaftar AAS, tetapi komunikasi nya (rencana saya ingin sekolah lagi) sudah lama saya lakukan dengan supervisor. Sehingga beliau tidak "kaget" dan "terburu2" ketika saya meminta rekomendasi dari beliau.

Demikian Gina, mudah2an dapat membantu. Semoga sukses ya!

Friday, September 21, 2018
This comment has been removed by the author.
avatar

Saya sangat berterima kasih atas saran dari ibu agar saya fokus pada persiapan langkah awal (administrasi)
alhamdulillah pada tgl 09 november 2018 saya telah mengikuti ujian TOEFL ITP score yang saya dapatkan 530, mengingat ini adalah pertama kalinya saya mengikuti TOEFL dan dengan waktu persiapan selama 1 bulan saya bersyukur dapat memperoleh nilai tsb namun saya masih akan mempersiapkan diri saya untuk memperoleh nilai yang lebih baik.
saat ini saya sedang mempersiapkan administrasi untuk melamar beasiswa CCIP AMINEF, salah satu syarat yang cukup menyita energy adalah dalam mempersiapkan Essay
jika ibu bersedia dan memiliki waktu luang saya ingin mendapatkan sedikit pandangan dari ibu untuk essay - essay yang telah saya persiapkan.

trims

Thursday, November 22, 2018
avatar
Amelia

Halo randy,
Syukur alhamdulillah hasilnya baik ya...semoga apa yang sedang randy usahakan diberikan kemudahan ya..aamiin. Sukses selalu randy!

Friday, November 23, 2018
avatar

Selamat siang mbak amelia.
Saya sudah lulus gelar master dengan jurusan Foreign Trade di Turki. Saya tertarik untuk lamar master lagi di AAS dengan jurusan double degree (the Master of International Business and Master of Commerce combined coursework master’s program). Menurut mbak apakah saya boleh melamar S2 lagi? Apakah peluang lolosnya besar kalau saya lamar S2 lagi? Saya sekarang kerja di perusahaan swasta, oleh karena itu saya tidak lamar S3. Terima kasih.

Wednesday, January 09, 2019
avatar
Amelia

Siang mas Nur Cholis,

Seingat saya (mohon di cek kembali pada aplikasi beasiswa), salah satu persyaratan beasiswa program ini adalah mendaftar pada jenjang yang lebih tinggi dari yang telah dimiliki sekarang. Artinya, jika sudah S2, maka melamar nya ke S3. Saran saya, coba tanya ke pihak AAS jika ragu2 tentang informasi ini. Kalau mengenai peluang, saya pikir akan kembali kepada aplikasi mas Nur Cholis, misalnya terkait kontribusi yang akan diberikan setelah masa studi. Demikian, mudah2an dapat membantu dan semoga lancar!

Wednesday, January 09, 2019
avatar

Halo Mba Amel,


Seru sekali membaca blog Mba tentang pengalmanan tahapan-tahapan menjalani proses seleksi beasiswa AAS ini. Bacanya sampai ikut deg-degan haha.

Oh Iya Mba, perkenalkan nama saya Dewa. Saya juga telah menghubungi Mba melalui Linkedln.
Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, dan kiranya mohon Mba bisa membantu.

1. Saya telah menghubungi dua prof yang ada di UNSW business schoolnya, namun belum ada respon sudah seminggu. Apakah Mba saran alternatif lain untuk menghubungi para prof tersebut? Atau Mba kiranya ada kenalan Prof yang bisa saya hubungi untuk berdiskusi? Seputaran riset interest saya adalah strategy planning, business strategy, organizational performance, management study.

2. Bagaimana tahapan Mba diterima oleh pihak UNSW? Karena saya berniat ikut AAS juga, apakah pihak AAS yang membantu Mba sampai Mba keterima di UNSW ?

Oh iya sebagai background pendidikan saya dalah MSc in economics di Universite Paris dan M.Mgt/MPro in Business Strategy di ENSTA PArisTech


Terima kasih banyak Mba Amel atas perhatiannya. Mohon maaf pertanyaannya agak teknikal. hehe
Salam

Saturday, February 09, 2019
avatar
Amelia

Halo juga Dewa,

Maaf sudah keduluan diskusi di ig dan linkedin ya...hehehe, kurang lebih jawaban dibawah ini sama seperti yang sudah kita diskusikan beberapa waktu lalu.

1. Apakah diharuskan untuk menghubungi potential spv secara pribadi? Karena pengalaman saya dulu (mungkin saja saat ini berubah) adalah mengirimkan expression of interest (EOI) melalui website school terkait. Selanjutnya, ketika sudah ada balasan, kita akan "dihubungkan" dengan potential spv untuk berkomunikasi lebih lanjut.

2. AAS akan membantu untuk proses pendaftaran ke universitas yang kita pilih. Tentunya, kita memilih uni yang bisa kita penuhi persyaratannya, jadi pastikan kita memilih uni yang memang kita yakini untuk studi lanjut. Selanjutnya, AAS akan membantu dalam proses aplikasi/pendaftaran kita ke uni terkait.

Demikian, mudah2an dapat membantu ya...semoga lancar2 Dewa!

Tuesday, February 19, 2019
avatar

Siang mbak amel, saya kebetulan mau apply utk beasiswa AAS ini juga, yang saya agak bingung di point melampirkan sertifikat original IELTS, apakah itu berarti cukup scan dan lampirkan, atau kita harus minta ke Lembaga IELTS lagi?
Tapi tadi saya tanya ke IALF Kuningan, itu brarti maksudnya reprint test result dan dokumen original copy akan dikirimkan langsung oleh mereka ke AAI
Kalau ya seperti itu,yang kita upload apakah cukup scan nya saja? Terus kita note di scan nya tadi kalau oroginal akan dikirim oleh IALF ke AAI

Sorry agak detail karena saya baca di artikel kalau katanya bnyak yg salah dalam melampirkan hasil IELTS karena yg diminta original

Trima kasih info nya ya Mbak

Tuesday, March 19, 2019
avatar
Amelia

Siang juga, maaf kalo saya salah pengertian ya...tapi setahu saya karena proses pendaftaran dilakukan secara online, maka hasil ielts yang kita dapatkan dari lembaga di scan dan di sertakan sebagai syarat pendaftaran. Apakah ini dapat menjawab pertanyaan? kalau dirasa kurang jelas, tanyakan kembali yaa..terima kasih,

Wednesday, March 20, 2019
avatar

Salam mba Amel,

Selamat atas beasiswa yang diperoleh, semoga selalu diberi kelancaran dalam study nya.

Mba Amel, tahun ini saya akan berikhtiar mendaftar AAS. Awalnya saya kurang tertarik karena target saya bukan ke Australia.
Oleh karena itu saya sangat terburu-buru dalam menyiapkan semuanya. Saya telah dan masih menyiapkan dokumen kurang dari 2 pekan ini dan deadline aplikasi ditutup 2 pekan yad.
Research Plan saya juga masih agak mentah dan saya kurang PD dengan hal tsb mengingat bidang keilmuan saya sosial dan sepertinya sudah banyak orang yang melakukan penelitian semacam itu, namun itu yang selama 5 tahun ini saya geluti.
Mohon tips bagaimana agar proposal kita menarik dan layak untuk diloloskan dalam seleksi administrasi.
Dimana saya dapat melihat bidang garapan kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Australia sebagai bahan untuk memperkaya isi research plan saya?

Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalam.

Sunday, June 14, 2020
avatar
Amelia

Waalaikumussalam Lutfi,
Menurut saya tips agar proposal menarik hanya 1, yaitu kita dapat mengkomunikasikan pentingnya (tujuan) riset kita kepada orang lain sehingga dapat dipahami dengan baik. Saya berpendapat bahwa setiap riset bersifat unik, jadi kunci nya ada di ke-PD an kita untuk mengkomunikasikan riset tersebut. Untuk program AAS, tentu saja riset nya harus mendukung kerjasama kedua belah pihak (Indonesia dan Australia). Selama masih ada waktu untuk memperbaiki proposal, jangan khawatir, proposal nya masih bisa diperbaiki. Semangat!

Maaf kalo saya kurang bisa menjawab pertanyaan kedua Lutfi, tapi mungkin link FB dari Australian Embassy (dibawah ini) bisa membantu karena biasanya banyak informasi program kerjasama antara Indonesia dan Australia. Berikut ini link nya:
https://www.facebook.com/australianembassyjakarta/

Demikian, mudah2an proses aplikasi nya lancar ya!

Wednesday, June 17, 2020
avatar

Assalamualaikum mba. Bermanfaat sekali pengalaman2nya. Oh yaa mba amelia ambil Ph.D ekonomi kah?

Terus mba. Mau tanya nih.. berhubung namanya sama2 satu kata Amelia saja dan saya pun satu kata. Kalau penulisan nama file dokumen yg diupload juga namanya diulang yaa mba.. contoh BIRTH CERTIFICATE_ Amelia Amelia yaa? Soalnya apa betul salah penulisan nama file dokumen yg diupload berpengaruh kepada keberhasilan aplikasinya?

Maaf pertanyaannya teknik gini karena ingin memastikan. Saya 2 kali daftar belum berhasil..heheh

Terima kasih mba

Tuesday, August 18, 2020
avatar
Amelia

Waalaikumussalam Aimen, salam kenal ya!

Saya ambil PhD in Marketing :)
Hehe..nama kita minimalis ya..kalo saya, pengulangan nama akan saya tulis jika diminta saja (kadang kan memang diharuskan ada last name dan first name). Tapi kalo tidak diwajibkan, ya menuliskannya satu kali saja. Tidak ada pengaruh antara penulisan nama dengan keberhasilan aplikasi kok..hehehe. Semangat coba lagi ya Aimen, semoga berhasil!

Tuesday, August 18, 2020