Sunday, January 6, 2019

Membawa keluarga sambil studi ke NSW, Australia (Bagian 2): Mengurus sekolah anak

Salam!


Jika anda berhasil menemukan postingan ini, maka saya ucapkan selamat...karena artinya anda sedang mempersiapkan si kecil untuk menemani anda bersekolah di Australia. Aamiin..

Postingan ini saya khususkan untuk membahas pengurusan sekolah anak (usia SD) di Australia, khususnya di New South Wales (NSW).  Yang perlu diingat adalah, postingan ini saya buat berdasarkan pengalaman ya...jadikan gambaran saja untuk teman2, dan selanjutnya sesuaikan dengan keadaan masing2. Mari kita mulai!

https://www.pexels.com/photo/close-up-of-woman-working-256468/

Jadi setelah anak saya berada di Australia, saya baru mengajak si kecil pergi ke sekolah yang dituju. Sekolah dicari berdasarkan zonasi, artinya sekolah yang terdekat dengan lokasi tempat tinggal. Link berikut ini membantu kita untuk mencari sekolah yang terdekat: https://education.nsw.gov.au/school-finder.

Pada saat mendaftar, selain mengisi formulir aplikasi yang diberikan oleh sekolah, saya juga menyertakan  dokumen seperti passport, visa, akte lahir, raport/catatan dari sekolah di Indonesia, catatan imunisasi atau medik dari dokter atau RS di Indonesia (bila ada, dan tidak wajib), dan dokumen lain yang sekira nya diperlukan. Selanjutnya, kita diberikan kebebasan waktu untuk mengembalikan formulir (dengan menyertakan tanggal masuk yang tergantung kesepakatan anak dan ortu), sekaligus janjian untuk interview dengan kepala sekolah. Perlu diketahui bahwa usia masuk sekolah di Australia adalah 6 tahun (untuk masuk kelas 1 SD). 

Waktu itu, saya mengembalikan formulir di hari yang sama, karena anak saya juga gak sabar buat sekolah di tempat baru, jadi ya hari itu juga interview dilakukan. Orang tua dan anak di interview di ruang kepala sekolah, dengan pertanyaan2 santai misalnya, bagaimana si kecil selama sekolah di Indonesia, suka kegiatan apa, dan lain2. Tenang aja teman2...interview dilakukan untuk perkenalan awal saja, dan bukan untuk tes baca, hitung, dan lain2...hehe. Sebagai informasi, anak saya tidak bisa berbicara bahasa inggris pada saat itu, kayaknya mengerti yes or no aja juga belum deh...hehe, tapi karena prinsip nya "anak2 akan belajar dengan cara nya masing2", tidak kita temukan syarat "mengerti bahasa Inggris" sebagai keharusan untuk masuk sekolah. 

Setelah formulir dan syarat dokumen dikembalikan ke sekolah, kita diminta untuk menunggu letter of enrollment (surat penerimaan) untuk sekolah yang akan dikirim via pos. Jika LoE itu sudah didapat, maka keesokan hari nya si kecil sudah bisa masuk sekolah. Dalam 1 tahun ajaran, terdapat 4 term yang dimulai Januari, Mei, Juli, dan Oktober. 

Biaya?
Karena saya awardee dari beasiswa Australia Awards, maka sekolah anak gratis alias free. Alhamdulillah, ini salah satu kemudahan yang bisa didapatkan dari beasiswa AAS. Dari pengalaman saya, hanya ada 2 biaya yang harus saya keluarkan pada saat anak mulai sekolah.
a) Baju seragam: Ini yang muahaal...huehehhee..mungkin karena saya kebiasaan beli seragam sekolah di pasar Indonesia (hehehe), jadi pas beli seragam disini saya geleng2 kepala..ckckck. Sebagai gambaran, harga seragam (dress) adalah $40-45 (alias 400ribuan) per potong, belum lagi baju olah raga, jaket dengan emblem (kalo masuk sekolah pas winter) dan topi. Jadi ya lumayan pusing abis terima nota pembeliannya...hehehe. Sebetulnya ada solusi untuk membeli seragam 2nd, tapi kok ya waktu itu saya gak nemu ukuran nya, jadi ya beli baru deh...:)

b) Uang buku (kertas aktifitas) selama 1 term. Ini jumlah nya sekitar $60. 

Jam sekolah?
Sekolah disini dilakukan dari Senin s.d. Jumat. Bel masuk sekolah jam 9.10 dan bel pulang jam 15.10. Jangan lupa bawa makan siang, buah, dan cemilan lain (misal biskuit atau keripik) sebagai bekal anak. Tidak disarankan untuk membawa coklat atau kacang, karena kuatir ada anak lain yang alergi ke 2 makanan tersebut. Sebetulnya tersedia kantin juga, tapi untuk di sekolah anak saya, kantin nya tidak tiap hari buka dan menu nya juga terbatas. Jadi lebih aman untuk bawa sendiri dari rumah. 

Oh ya, kalau si anak mau ijin sholat dzuhur, sekolah juga akan memfasilitasi dengan memberikan ruangan untuk sholat. Jadi jangan kuatir ya...

Demikian teman2, mudah ya proses nya? hal yang paling sulit menurut saya pada proses ini adalah "kemauan" anak untuk masuk ke lingkungan yang sangat baru. Ada anak yang santai-santai saja, tetapi juga ada anak yang stress dan (bahkan) menolak untuk sekolah. Terlepas dari itu, Insha Allah selalu ada kemudahan..aamiin.

Jika teman2 punya pertanyaan, silakan tuliskan di kolom comment ya..sampai ketemu!

Salam,


EmoticonEmoticon